4 Perkara yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim: Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar

Tauhid · 7 November 2026 · Sumber: Syarh Tsalatsah al-Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin

Empat perkara yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan bersabar atas gangguan di jalannya. Keempatnya disebutkan Syaikh Muhammad bin ’Abdul Wahhab rahimahullah di awal kitab Tsalatsah al-Ushul (Tiga Landasan Utama). Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah, empat perkara ini mencakup seluruh agama, sehingga sangat layak diperhatikan karena manfaatnya yang besar.1

Teks matan

اعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ: الأُولَى: العِلْمُ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ، وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ، وَمَعْرِفَةُ دِينِ الإِسْلَامِ بِالأَدِلَّةِ. الثَّانِيَةُ: العَمَلُ بِهِ. الثَّالِثَةُ: الدَّعْوَةُ إِلَيْهِ. الرَّابِعَةُ: الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ.

“Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa wajib atas kita mempelajari empat perkara. Pertama, ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Kedua, mengamalkannya. Ketiga, mendakwahkannya. Keempat, bersabar atas gangguan di jalannya.”

1. Ilmu: mengenal Allah, Nabi-Nya, dan agama Islam dengan dalil

Mengenal Allah. Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar tahu. Ini adalah pengenalan hati yang membuat seseorang menerima syariat Allah, tunduk kepadanya, dan berhukum dengan syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ. Allah dikenal melalui dua jalan: merenungkan ayat-ayat syar’iyyah (Al-Qur’an dan Sunnah) dan ayat-ayat kauniyyah (alam ciptaan-Nya). Allah berfirman, “Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. (Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. adz-Dzariyat: 20–21)2

Mengenal Nabi ﷺ. Mengenal beliau berarti menerima petunjuk yang beliau bawa, membenarkan beritanya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, serta ridha dengan keputusannya (QS. an-Nisa: 65).3

Mengenal agama Islam. Dalam makna umum, Islam adalah beribadah kepada Allah dengan syariat-Nya sejak para rasul diutus. Setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus, Islam khusus berarti ajaran yang beliau bawa, yang menghapus syariat-syariat sebelumnya. Inilah agama yang diterima di sisi Allah (QS. Ali ’Imran: 19 dan 85).4

Dengan dalil. Dalil ada dua macam: sam’i, yaitu wahyu berupa Al-Qur’an dan Sunnah, dan ’aqli, yaitu hasil perenungan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah.5

2. Amal: buah dari ilmu

Ilmu yang benar menuntut amal: beriman kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Amal itu mencakup ibadah pribadi seperti shalat, puasa, dan haji, juga ibadah yang manfaatnya sampai kepada orang lain seperti amar ma’ruf nahi munkar. Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah berkata:

والعمل في الحقيقة هو ثمرة العلم، فمن عمل بلا علم فقد شابه النصارى، ومن علم ولم يعمل فقد شابه اليهود

“Amal pada hakikatnya adalah buah dari ilmu. Siapa yang beramal tanpa ilmu, ia menyerupai orang Nasrani. Siapa yang berilmu tetapi tidak beramal, ia menyerupai orang Yahudi.”6

3. Dakwah: mengajak kepada syariat Allah dengan ilmu

Dakwah adalah mengajak manusia kepada syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ. Tingkatannya disebut dalam QS. an-Nahl: 125, yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan bantahan dengan cara terbaik. Tingkatan keempat disebut dalam QS. al-’Ankabut: 46.

Dakwah harus di atas ilmu dan bashirah (QS. Yusuf: 108). Menurut Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah, bashirah mencakup tiga hal: ilmu tentang hukum syar’i, cara berdakwah, dan keadaan orang yang didakwahi.7

Sarana dakwah banyak: khutbah, ceramah, tulisan dan artikel, halaqah ilmu, menulis buku, bahkan obrolan dalam sebuah majelis. Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah menyarankan agar dakwah di majelis tidak membosankan, misalnya dengan mengangkat satu masalah ilmiah lalu mendiskusikannya bersama. Tanya jawab seperti ini sering lebih mudah dipahami daripada ceramah satu arah.8

Keutamaannya besar. Rasulullah ﷺ bersabda kepada ’Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pada Perang Khaibar:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Demi Allah, Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta-unta merah.”9

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapat pahala seperti pahala pelakunya.”10

4. Sabar atas gangguan di jalan dakwah

Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah mendefinisikan sabar:

الصبر حبس النفس على طاعة الله، وحبسها عن معصية الله، وحبسها عن التسخط من أقدار الله

“Sabar adalah menahan diri untuk tetap taat kepada Allah, menahan diri dari bermaksiat kepada Allah, dan menahan diri dari marah terhadap takdir Allah.”11

Orang yang mengajak kepada kebaikan hampir pasti mendapat gangguan, karena begitulah tabiat manusia, kecuali yang diberi petunjuk oleh Allah. Para rasul pun didustakan dan disakiti, lalu mereka bersabar hingga datang pertolongan Allah (QS. al-An’am: 34). Pertolongan itu tidak harus terlihat semasa hidup. Bisa jadi datang setelah wafat, ketika Allah menjadikan manusia menerima dan berpegang pada dakwahnya.12

Teladan kesabaran ini digambarkan dalam hadits ’Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu:

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَحْكِي نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ، وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Seakan-akan aku melihat Nabi ﷺ menceritakan salah seorang nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Sambil mengusap darah dari wajahnya, nabi itu berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.’”13

Sabar ada tiga macam:14

  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
  2. Sabar dalam menjauhi apa yang Allah haramkan.
  3. Sabar menghadapi takdir Allah, baik yang terjadi tanpa campur tangan manusia maupun gangguan yang datang dari orang lain.

Dalil empat perkara: Surat al-’Ashr

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1–3)

Allah bersumpah dengan masa, tempat terjadinya kebaikan dan keburukan, bahwa setiap manusia merugi, seberapa pun banyak harta dan tinggi kedudukannya. Yang selamat hanyalah orang yang memiliki empat sifat:15

Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah juga menukil perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: jihad melawan hawa nafsu ada empat tingkatan, yaitu belajar, mengamalkan, mengajarkan, dan bersabar atas beratnya dakwah serta gangguan manusia. Beliau menutupnya dengan:

فإذا استكمل هذه المراتب الأربع صار من الربانيين

“Jika seseorang telah menyempurnakan empat tingkatan ini, ia termasuk golongan rabbaniyyin.”16

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat ini, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya selain surat ini, niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”17 Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksudnya: surat ini cukup sebagai dorongan untuk berpegang pada agama, bukan berarti cukup untuk seluruh syariat.

Ilmu sebelum ucapan dan amal

Imam al-Bukhari rahimahullah membuat bab “Ilmu sebelum ucapan dan amal” dalam Shahih-nya, berdalil dengan firman Allah, “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu …” (QS. Muhammad: 19). Allah memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan amal.18

Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah menambahkan dalil akal: ucapan dan amal baru sah dan diterima bila sesuai syariat, dan kesesuaian itu hanya bisa diketahui dengan ilmu. Sebagian perkara memang dikenal dengan fitrah, seperti keesaan Allah. Namun masalah-masalah yang lebih rinci perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh.19

Ringkasan

Rujukan

Footnotes

  1. Syarh Tsalatsah al-Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, hal. 19. ↩

  2. Ibid., hal. 19. ↩

  3. Ibid., hal. 20. ↩

  4. Ibid., hal. 20–21. ↩

  5. Ibid., hal. 21. ↩

  6. Ibid., hal. 22. ↩

  7. Ibid., hal. 22. ↩

  8. Ibid., hal. 22–23. ↩

  9. Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ’anhu. HR. al-Bukhari no. 3009 (Kitab al-Jihad wa as-Siyar), juga no. 3701 dan 4210; dan Muslim no. 2406 (Kitab Fadha’il ash-Shahabah). Muttafaq ’alaih: hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim disepakati keshahihannya oleh para ulama. Dibawakan dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 23. ↩

  10. Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ’anhu. HR. Muslim no. 1893 (Kitab al-Imarah); juga Abu Dawud no. 5129 dan at-Tirmidzi no. 2671. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 5129). Dibawakan dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 23. ↩

  11. Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 24. ↩

  12. Ibid., hal. 24. ↩

  13. HR. al-Bukhari no. 3477 (Kitab Ahadits al-Anbiya) dan Muslim no. 1792 (Kitab al-Jihad wa as-Siyar, bab Perang Uhud). Dalam hadits ini Nabi ﷺ menceritakan keadaan seorang nabi terdahulu. Imam Muslim rahimahullah meletakkannya di bab Perang Uhud, karena hal serupa dialami Nabi ﷺ ketika beliau terluka di Uhud; sebagian ulama bahkan berpendapat beliau sendirilah yang dimaksud. Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah membawakannya sebagai keadaan Nabi ﷺ, Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 24–25. ↩

  14. Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 25. ↩

  15. Ibid., hal. 25–26. ↩

  16. Imam Ibnul Qayyim, Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-’Ibad, juz 3, hal. 10. Dinukil dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 25–26. ↩

  17. Lafaz ini dinukil Syaikh Muhammad bin ’Abdul Wahhab rahimahullah dalam matan Tsalatsah al-Ushul. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilnya dengan lafaz لو تدبر الناس هذه السورة لوسعتهم (“Seandainya manusia merenungkan surat ini, niscaya cukup bagi mereka”) di awal tafsir Surat al-’Ashr dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim. Penjelasan maksudnya: Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 27. ↩

  18. Shahih al-Bukhari, Kitab al-’Ilm, bab ke-10. Lafaz dalam ash-Shahih: لقول الله تعالى … فبدأ بالعلم (“berdasarkan firman Allah … maka Dia memulai dengan ilmu”). Lihat juga Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 27. ↩

  19. Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 27–28. ↩

Tanya jawab

Apa saja empat perkara yang wajib dipelajari setiap muslim?

Ilmu (mengenal Allah, Nabi-Nya, dan Islam dengan dalil), mengamalkannya, mendakwahkannya, dan bersabar atas gangguan di jalannya.

Apa dalil empat perkara ini?

Surat al-'Ashr: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Mengapa ilmu harus didahulukan sebelum amal?

Karena amal hanya diterima bila sesuai syariat, dan itu tidak bisa diketahui tanpa ilmu (QS. Muhammad: 19).

Apa saja macam-macam sabar?

Sabar dalam ketaatan, sabar menjauhi yang haram, dan sabar menghadapi takdir Allah.

Ditulis oleh: Tim Faidah Kitab · Diperiksa oleh: Abu Hanifah